Vitamin bikin cepat mati

May 2nd, 2007 by indonesia

Diambil dari

makeURL(”http://www.hindustantimes.com/StoryPage/StoryPage.aspx?id=c08a03a7-2b21-4c81-9587-5a554c472697&”,”eHNsL2J1bGxldGluLnhzbA==”);http://www.hindustantimes.com/StoryPage/StoryPage.aspx?id=c08a03a7-2b21-4c81-9587-5a554c472697&

Taking vitamin supplements may no longer
be a mantra to stay fit. New research
suggests that certain vitamins can have
adverse effects on human lifespan.

Researchers at the University of
Copenhagen reviewed more than 815
clinical trials into the benefits of
commonly used vitamin supplements,
including vitamins A, E and C besides
beta-carotene and selenium.

They found that vitamin supplements
appeared to raise, not lower, the risk
of early death, reported online edition
of BBC News.

Millions worldwide use antioxidant
supplements, including vitamins A and E,
believing it improves health.
Nutritionists suggest a balanced diet
instead.

Food contains a complex matrix of
different components, which could not be
replicated by supplements, British
Dietetic Association nutritionist
Frankie Phillips said.

"Our advice is to eat a wide range of
foods in a balanced diet that can
provide all of the nutrients the body
needs to protect itself and combat
diseases."

Back to nature, jangan cari yang
mudah2nya aja. makan sehat dan seimbang
itu lebih penting

Polling Terroris

May 2nd, 2007 by indonesia

Ya berikut ini saya mencoba mencari
siapa teroris sebenarnya menurut
komunitas dunia

Osama vs Bush

Begini cara mainnya

1. Ketikan : "Bush is terrorist" ke
google.com

2. Ketikan : "Osama is terrorist" ke
google.com

Hasilnya

16.700.000 : 1.420.000 untuk kemenangan
"Bush is terrorist" (Lihat di jumlah
hasil penelusuran)

Lalu iseng-iseng cari yang lain

"I hate bush" vs "I hate osama"
= 25.600.000 vs 1.270.000

"Die bush" vs "die osama"
= 51.000.000 vs 1.610.000

Dengan begitu Manusia paling teroris,
dibenci dan lebih baik mati dengan ini
di nobatkan kepada saudara Bush dengan
rasio rata-rata 30 : 1  ….

Selamat anda Bush telah begitu berhasil
membuat dunia begitu membenci anda.

By : Salman Azis Alsyafdi

makeURL(”www.indonesia.blogs.friendster.com”,”eHNsL2J1bGxldGluLnhzbA==”);www.indonesia.blogs.friendster.com

Tandai hari, tandai sejarah…

April 24th, 2007 by indonesia

Tandai hari, tandai sejarah…
Siapakah mereka yang tertinggal siapakah
mereka yang ikut…

Dalam detik2 perubahan besar umat manusia

1. Partai politik terbesar Turki
mengumumkan akan memilih Presiden dengan
latar belakang Islam kuat Abdullah Gul, 56.

Jangan pernah lupa bahwa Ottoman Turki
pernah menjadi sebuah kekuatan terbesar
di bawah bendera islam.

2. Ketua Partai Demokrat (partai
terbesar) AS menyatakan secara terang2an
bahwa Amerika telah KALAH perang.

3. Ahli ekonomi dunia mengatakan
kemajuan pesat umat manusia dalam tahun2
mendatang ada di Asia.

Tandai apa yang akan terjadi mungkin
kamu akan menyaksikan sesuatu yang
menarik ..
Tandai..

Peristiwa menarik

April 24th, 2007 by indonesia

Tandai hari, tandai sejarah…
Siapakah mereka yang tertinggal siapakah
mereka yang ikut…

Dalam detik2 perubahan besar umat manusia

1. Partai politik terbesar Turki
mengumumkan akan memilih Presiden dengan
latar belakang Islam kuat Abdullah Gul, 56.

Jangan pernah lupa bahwa Ottoman Turki
pernah menjadi sebuah kekuatan terbesar
di bawah bendera islam.

2. Ketua Partai Demokrat (partai
terbesar) AS menyatakan secara terang2an
bahwa Amerika telah KALAH perang.

3. Ahli ekonomi dunia mengatakan
kemajuan pesat umat manusia dalam tahun2
mendatang ada di Asia.

Tandai apa yang akan terjadi mungkin
kamu akan menyaksikan sesuatu yang
menarik ..
Tandai..

Why do people fall ??

April 2nd, 2007 by indonesia

So tell me my friend …

Why do people fall ??

And I’ll give you an answer you will never forget…

Men fall so they can learn to pick theirselves back up again…

In this world there shalt be ups and downs, nevertheless one cannot
enjoy sweat happiness if one had not face the bitterness of sorrow.

The more sorrow one faces, than more happiness it shalt regain in the future…

But there is one precondition needed to obtain such existence..

It is for one to always see things in a bright prespective, to not
blame yourself nor others nor the God for what has happened…

To look it as a way for yourself to become better, that God still loves
you. It is Gods way so you will always remember God, so you could pray
to God better…

We have seen the world together my friend, and as we breath the worlds
air, we realize that this world is a fotomorgana and a dilusion that
last as long as we live…

And yet we know that the hereafter is where our soul really exist.

Asli buatan Gua hehehhe

Indonesia akan selamat

April 2nd, 2007 by indonesia

Mungkin anda berkata bahwa ini hanya
fotomorgana, tapi insya allah ini akan
berhasil.

Keberhasilan sebuah negara adalah pada
pendidikan yang baik. Kemerataan
pendidikan, pendidikan yang murah.

Tapi realita sering berkata lain.

Tapi teknologi akhirnya bisa memecahkan
kebuntuan yang ada.

Dengan konsep e-learning insya allah
kita akan maju. Dengan semakin murahnya
komputer dan semakin murahnya internet,
kita akan menemui ilmu itu tersebar
merata. Tersebar dan gratis.

Tapi kita juga membutuhkan orang2 yang
suka rela menyediakan bahan pengajaran
yang baik, bisa terdiri dari video
seorang guru yang menerangkan, fasilitas
forum untuk tanya jawab, dll.

Saya masih yakin pada sebuah hari dimana
rakyat indonesia tersenyum, walau
mungkin aku sudah tiada saat itu terjadi
tapi aku mau menjadi bagian dari
perubahan itu.

Bayangkan sebuah masa ketika ilmu itu
tidak dikuasai oleh segelintir manusia,
dikarenakan mereka mempunyai uang yang
banyak.

Ketika ilmu itu digunakan untuk mencari
keselamatan, mencari harapan akan sebuah
masa depan…

Bukan ilmu yang digunakan oleh orang
kaya yang diturunkan pada anaknya agar
rantai korupsi itu bisa terus dijalankan .

Bayangkan ketika kita mendengar seorang
Papua bisa mengembangkan ilmu yang
mengetarkan dunia.

Ayo bersama kita majukan pendidikan,

langkah kongkretnya sekarang adalah
menyediakan bahan pengajaran yang bisa
diakses di komputer, lalu dengan
internet yang semakin tersebar, kita
sebarkan ilmu, kita sebarkan harapan,
harapan akan sebuah hari dimana senyum
terhias dihati rakyat kecil

Salman A.A.

PadaHariKetikaPesimismeMeningkat

New Ideas for life

March 31st, 2007 by indonesia

It has been a while since I posted blogs, to much were the troubles engolfing my soul.

Well whats new ? Hmm let me say well I started my new business a month ago it is a secret, and my new website.

Well my site is for business purpose, it isn’t ready yet, but I hope in a few weeks it’ll be ready.

It is www.iklangua.com

Well you could broadcast your advertisement for free there.

Well it isnt that hard in building a website nowadays, you dont have to start from scratch my friend, just take and refine. Take and refine…

Well I was hoping to take a piece of cake of te biggest business boom of our time…

I am back !!! Upgraded

March 25th, 2007 by indonesia

Dan sekali lagi kita bangkit dari kegelapan dunia

Dan kita telah pelajari apa yang terjadi

Semoga kita menjadi mereka yang beruntung

Mereka yang tidak terjatuh dalam lubang sama yang telah mereka buat

Dan pengalaman adalah pelajaran paling berharga bagi manusia

Mereka terjatuh tapi kini mereka bangkit lagi

Mencari apa-apa yang telah tuhan anugerahkan padanya

Dan pada akhirnya mereka hanya berharap agar Tuhan mengampuni dosanya dan menerimanya dalam naungannya

Siapalah manusia bisa memilih2 siapa yang ingin ia temui

Adakah ia ingin membatasi pengetahuannya dengan membatasi siapa yang ingin ia ketahui …

Hanya kebodohanlah yang menanti mereka yang memilih2 manusia.

Kisah seorang tukang kayu

December 19th, 2006 by indonesia

Seorang  tukang kayu tua bermaksud
pensiun dari
pekerjaannya di sebuah perusahaan
konstruksi real
estate. Ia menyampaikan keinginannya
tersebut pada
pemilik  perusahaan. Tentu saja, karena
tak bekerja,
ia akan kehilangan penghasilan
bulanannya, tetapi
keputusan itu sudah bulat. Ia merasa
lelah. Ia ingin
beristirahat dan menikmati sisa hari
tuanya dengan
penuh kedamaian bersama istri dan
keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih
kehilangan  salah
seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu
memohon pada
tukang kayu tersebut untuk membuatkan
sebuah rumah
untuk dirinya.

Tukang kayu mengangguk menyetujui
permohonan pribadi
pemilik perusahaan itu. Tapi,
sebenarnya ia merasa
terpaksa. Ia ingin segera berhenti.
Hatinya tidak
sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-
ogahan ia
mengerjakan proyek itu. Ia cuma
menggunakan
bahan-bahan sekedarnya.

Akhirnya selesailah rumah yang diminta.
Hasilnya
bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh
sayang ia harus
mengakhiri kariernya dengan prestasi
yang tidak
begitu  mengagumkan.

Ketika pemilik perusahaan itu datang
melihat rumah
yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah
kunci rumah
pada si tukang kayu.
"Ini adalah rumahmu," katanya,  "hadiah
dari kami."

Betapa  terkejutnya si tukang kayu.
Betapa malu dan
menyesalnya. Seandainya saja ia
mengetahui bahwa ia
sesungguhnya mengerjakan rumah untuk
dirinya
sendiri,  ia  tentu akan mengerjakannya
dengan cara
yang lain  sama sekali. Kini ia harus
tinggal di
sebuah rumah  yang tak terlalu bagus
hasil karyanya
sendiri.

Itulah yang terjadi pada kehidupan
kita. Kadangkala,
banyak dari kita yang membangun
kehidupan dengan cara
yang membingungkan. Lebih  memilih
berusaha ala
kadarnya ketimbang mengupayakan yang
baik. Bahkan,
pada  bagian-bagian terpenting dalam
hidup kita tidak
memberikan yang terbaik. Pada akhir
perjalanan kita
terkejut saat melihat apa yang telah
kita lakukan dan
menemukan diri kita hidup di dalam
sebuah rumah yang
kita ciptakan sendiri.

Seandainya kita menyadarinya sejak
semula kita akan
menjalani hidup ini dengan cara yang
jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si tukang
kayu. Renungkan
rumah yang sedang kita bangun. Setiap
hari kita
memukul paku, memasang papan,
mendirikan dinding dan
atap. Mari kita selesaikan rumah kita
dengan
sebaik-baiknya seolah-olah hanya
mengerjakannya
sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun
kita hanya
hidup satu  hari, maka dalam satu hari
itu kita pantas
untuk hidup penuh keagungan dan
kejayaan.

Apa yang  bisa diterangkan lebih jelas
lagi.

Hidup kita esok adalah akibat sikap dan
pilihan yang
kita perbuat hari ini. Hari
perhitungan adalah milik
Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan
kita pun akan
masuk dalam barisan kemenangan.

"Hidup adalah proyek yang kau kerjakan
sendiri".

Kisah seorang ibu

December 13th, 2006 by indonesia

Images_1

Hari ini engkau terlahir ke dunia,
anakku. Meski tidak seperti harapanku bertahun-tahun merindukan
kehadiran seorang anak laki-laki, aku tetap bersyukur engkau lahir
dengan selamat setelah melalui jalan divakum. Telah kupersiapkan sebuah
nama untukmu; Qaulan Syadida..Aku sangat terkesan dengan janji Allah
dalam surat Al-Ahzab ayat tujuh puluh, maknanya perkataan yang benar.
Harapanku engkau kelak menjadi seorang yang kaya iman dan memperoleh fauzan’adzima, kemenangan yang besar seperti yang engkau telah dijanjikan Allah dalam Al-Quran.

Sungguh kelahiranmu telah mengajarkanku makna bersyukur…

1981
Tahun
ini engkau memasuki sekolah dasar. Usiamu belum genap enam tahun.
Tetapi engkau terus merengek minta disekolahkan seperti saudarimu.
Engkau berbeda dari keempat kakakmu terdahulu. Bagaimana engkau dengan
gagah tanpa ragu atau malu-malu melangkah memasuki ruang kelasmu.
Bahkan engkau tak minta dijemput. Saat ini aku mulai menyadari sifat
keberanian yang tumbuh dalam dirimu yang tak kutemukan dalam diri
saudarimu yang lain.

1987
Putriku, sungguh aku pantas
bangga padamu. Tahun ini engkau ikut Cerdas Cermat tingkat nasional di
TVRI. Dengan bangga aku menyaksikan engkau tampil penuh percayar diri
di layar kaca dan aku pun bisa berkata pada teman-temanku; itu anakku
Qaulan…Meski tidak juara pertama, aku tetap bangga padamu. Namun di
balik rasa banggaku padamu selalu terbesit satu kekhawatiran akan
sikapmu yang agak aneh dalam pengamatanku. Tidak seperti keempat
kakakmu yang kalem dan cenderung memiliki sifat-sifat perempuan, engkau
justru sangat agresif, pemberani, agak keras kepala, meski tetap santun
padaku dan selalu juara kelas.

Jika hari Ahad tiba, engkau lebih
suka membantuku membersihkan taman, mengecat pagar, atau memegangi
tangga bila aku memanjat membetulkan bocor. Engkau lebih sering
mendampingiku dan bertanya tentang alat-alat pertukangan ketimbang
membantu ibumu memasak di dapur seperti saudarimu yang lain.
Kebersamaan dan kedekatanmu denganku, membuatku sering meperlakukanmu
sebagai anak lelakiku, dengan senang hati aku menjawab
pertanyaan-pertanyaanmu, membekalimu dengan pengatahuan dan permainan
untuk anak lelaki. Tak jarang kita berdua pergi memancing atau sekedar
menaikkan layang-layang sore hari di lapangan madrasah tempat aku
mengajar.

Putriku, sungguh kekhawatiranku berbuah juga. Engkau
menolak bersekolah di tsanawiyah seperti saudarimu. Diam-diam tanpa
sepengetahuanku engkau telah mendaftar di sebuah SMP negeri. Bukan
kepalang kemarahanku. Untunglah ibumu datang membelamu, jika tidak
mungkin tangan ini sudah berpindah ke pipimu yang putih mulus. Tegarnya
watakmu, bahkan tak setetes airmata jatuh dari kedua matamu yang tajam
menatapku.

Putriku, jika aku marah padamu semata-mata karena aku
khawatir engkau larut dalam pola pergaulan yang tak benar, anakku.
Terlebih-lebih saat engkau menolak mengenakan jilbab seperti keempat
kakakmu. Betapa sedih dan kecewa hatiku melihatmu, Nak…

1993
Tahun
ini engkau menamatkan SMAmu. Engkau tumbuh menjadi gadis cantik,
periang, pemberani, dan banyak teman. Temanmu mulai dari tukang kebun
sampai tukang becak, wartawan, bahkan menurut ibumu pernah anggota
Kopassus datang mencarimu. Putriku, disetiap bangun pagiku, aku seolah
tak percaya engkau adalah putriku, putri seorang yang sering dipanggil
Ustadz, putri seorang kepala madrasah, putri seorang pendiri perguruan
Islam… Putriku, entah mengapa aku merasa seperti kehilanganmu. Sedih
rasanya berlama-lama menatapmu dengan potongan rambut hanya berbeda
beberapa senti dengan rambutku. Biar praktis dan sehat; berkali-kali
itu alasan yang kau kabarkan lewat ibumu. Jika terjadi sesuatu yang
tidak baik pada dirimu selama melewati usia remajamu, putriku maka
akulah orang yang paling bertanggung jawab atas kesalahan itu.

Aku
tidak berhasil mendidikmu dengan cara yang Islami. Dalam doa-doa
malamku selalu kebermohon pada Rabbul ‘Izzati agar engkau dipelihara
olehNya ketika lepas dari pengawasan dan pandangan mataku. Kesedihan
makin bertambah takkala diam-diam engkau ikut UMPTN dan lulus di
fakultas teknik. Fakultas teknik, putriku? Ya Rabbana, aku tak sanggup
membayangkan engkau menuntut ilmu berbaur dengan ratusan anak laki-laki
dan bukan satupun mahrommu? Dalam silsilah keluarga kita tidak satupun
anak perempuan belajar ilmu teknik, anakku. Keempat kakakmu menimba
ilmu di institut agama dan ilmu keguruan. Ya, silsilah keluarga kita
adalah keluarga guru, anakku. Engkau kemukakan sejumlah alasan, bahwa
Islam juga butuh arsitek, butuh teknokrat, Islam bukan tentang ibadah
melulu…Baiklah, aku sudah terlalu lelah menghadapimu, aku terima
segala argumen dan pemikiranmu,putriku.. Dan aku akan lebih bisa
menerima seandainya engkau juga mengenakan busana Muslimah saat memulai
masa kuliahmu.

1995
Tahun ini tidak akan pernah
kulupakan. Akan kucatat baik-baik… Engkau putriku, yang selalu
kusebut namamu dalam doa-doaku, kiranya Allah SWT mendengar dan
mengabulkan pintaku. Ketika engkau pulang dari kuliahmu; subhannalah!
Engkau sangat cantik dengan jilbab dan baju panjangmu, aku sampai tidak
mengenalimu, putriku. Engkau telah berubah, putriku.. Apa sesungguhnya
yang engkau dapati di luar sana. Bertahun-tahun aku mengajarkan padamu
tentang kewajiban Muslimah menutup aurat, tak sekalipun engkau cela
perkataanku meski tak sekalipun juga engkau indahkan anjuranku. Dua
tahun di bangku kuliah, tiba-tiba engkau mengenakan busana takwa itu?
Apa pula yang telah membuatmu begitu mudah menerima kebenaran ini?
Putriku, setelah sekian lamanya waktu berlalu, kembali engkau
mengajarkan padaku tentang hakikat dan makna bersyukur.

1997
Putriku,
kini aku menulis dengan suasana yang lain. Ada begitu banyak asa
tersimpan di hatiku melihat perubahan yang terjadi dalam dirimu. Engkau
menjadi sangat santun, bahkan terlihat lebih dewasa dari keempat
saudarimu yang kini telah berumah tangga semuanya. Kini, hanya engkau
aku dan ibumu yang mendiami rumah ini. Kurasakan rumah kita seolah-olah
berpendar cahaya setiap saat dilantuni tilawah panjangmu. Gemercik
suara air tengah malam menjadi irama yang kuhafal dan pantas kurenungi.
Putriku, jika aku pernah merasa bahagia, maka saat paling bahagia yang
pernah kurasakan di dunia adalah saat ketika diam-diam aku memergokimu
tengah menangis dalam sujud malammu…. Selalu kuyakinkan diriku bahwa
akulah si pemilik mutiara cahaya hati itu, yaitu engkau putriku…

1998
Putriku,
kalau saat ini aku merasa sangat bangga padamu, maka itu amat
beralasan. Engkau telah lulus menjadi sarjana dengan predikat cum
laude. Keharuan yang menyesak dadaku mengalahkan puluhan tanya ibumu,
diantaranya; mengapa engkau tidak punya teman pendamping pria seperti
kakak-kakakmu terdahulu? Engkau begitu sederhana, putriku, tanpa
polesan apapun seperti lazimnya mereka yang akan berangkat wisuda,
semua itu justru membuatku semakin bangga padamu. Entah darimana engkau
bisa belajar begitu banyak tentang kebenaran, anakku…

Jika hari
ini aku meneteskan airmata saat melihatmu dilantik, itu adalah airmata
kekaguman melihat kesungguhan, ketegaran, serta prinsip yangengkau
pegan teguh. Dalam hal ini akupun mesti belajar darimu, putriku…

1 Agustus 1999
Putriku,
bulan ini usiaku memasuki bilangan enampuluh tiga. Aku teringat
Rasulullah mengakhiri masa dakwahnya didunia pada usia yang sama.

Akhir-akhir
ini tubuhku terasa semakin melemah. Penyakit jantung yang kuderita
selama bertahun-tahun kemarin mendadak kumat, saat kudapati jawaban
diluar dugaan dari keempat saudarimu. Tidak satu pun dari mereka
bersedia meneruskan perguruan yang telah kubina selama puluhan tahun.
Aku sangat maklum, mereka tentu mempunyai pertimbangan yang lain, yaitu
para suami mereka. Sedih hatiku melihat mereka yang telah kudidik
sesuai dengan keinginanku kini seolah-oleh bersekutu menjauhiku. Jika
aku menulis diatas tempat tidur rumah sakit ini, itu dengan kondisi
sangat lemah, putriku. Aku tak tahu pasti kapan Allah memanggilku.
Putriku….kutitipkan buku harianku ini pada ibumu agar diserahkan
padamu. Aku percaya padamu… Jika aku memberikan buku ini padamu, itu
karena aku ingin engkau mengetahui betapa besar cintaku padamu, mengapa
dulu aku sering memarahimu..maafkan buya, putriku…

Kini hanya
engkau satu-satunya harapanku… Aku percaya perguruan yang telah
kubangun dengan tanganku sendiri ini padamu. Aku bercita-cita
mengembangkannya menjadi sebuah pesantren. Engkau masih ingat lapangan
tempat kita dulu menaikkan layangan? Itu adalah tanah warisan almarhum
kakekmu.

Di lapangan itulah kurencanakan berdiri bangunan asrama
tempat para santri bermukim. Engkau seorang arsitek, anakku, tentu
lebih memahami bangunan macam apa yang sesuai untuk kebutuhan sebuah
asrama pesantren… Kuserahkan sepenuhnya kepadamu, juga untuk
mengelolanya nanti. Sebab aku yakin, dari tanganmu, dari hatimu yang
jernih, dari perkataan dan tindakanmu yang selalu sejalan dengan
kebenaran akan terlahir sebuah fauzan’adzima, kemenangan yang besar, seperti yang telah Allah janjikan, yakinlah, putriku…

Dalam
diri dan jiwamu kini terhimpun beragam kapasitas keilmuan dunia dan
akhirat. Kini kusadari engkau bukan saja sekedar terlahir dari rahim
ibumu, tetapi juga lahir dari rahim bernama Hidayah. Semoga Allah
menyertai dan memudahkan jalan yang akan engkau lalui, putriku. Amien Ya Rabbal ‘Alamiin.

12 Agustus 1999
Rabbi,
jika airmata ini bukan tumpah, bukan karena aku tidak mengikhlaskan
buyaku Engkau panggil, tapi sebab aku belum mengenali buyaku selama
ini, seutuhnya. Sebab hanya seujung kuku baktiku padanya. Rabbi,
perkenankan aku menjalankan amanah Buya dengan segenap radhi-Mu. hanya
Engkau..ya Mujib… Happy Birthday to Buya I Love you so much

* * *

14 September 1999