Cerita Cinta
Monday, July 31st, 2006Cerita yang menarik nih :
Mungkin hari ini aku telah merasakan lelah dengan segala perilaku suamiku yang kurang memperhatikan aku. Kami sudah menikah hampir 3 tahun lamanya, namun belum juga mempunyai buah hati yang bisa menghibur di kehidupan kami.
Selain itu masih banyak lagi yang ia tidak lakukan seperti saat-saat kami masih dalam masa perkenalan.
Suamiku seorang pelayar, dan saya sangat mencintai dan menyayanginya dengan sifat asli dan alamiah yang ia punya. Ia selalu mengerti dan sangat mengenal aku, lebih dari apa yang aku yang mengenal diriku sendiri.
Saya seorang wanita yang sensitif dan sangat berperasaan. Saya selalu merasakan hangat romantisnya perilaku suamiku, yang kini semakin aku rindukan. Hari demi hari perasaan itu tidak aku dapatkan lagi. Suamiku menjadi sangat mengesalkan.
Suamiku sangat jauh dari apa yang saya perkiraankan selama ini.
Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan tiga tahun masa pernikahannku, aku akui bahwa aku ditakuti oleh perasaan cemburu kepada orang lain.
Suamiku sekarang jauh berbeda dari yang saya harapkan ketika ia berada di sampingku.
Rasa sensitifnya berkurang sekali.
Dan kemampuannya dahulu dalam menciptakan suasana romantisnya kini hilang, serta memuntahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.
Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan
keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan
perceraian.
"Mengapa ?", tanya suami saya dengan terkejut.
"Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta
yang saya inginkan," jawab saya.
Suami saya terdiam dan termenung sepanjang malam di
depan komputernya, tampak seolah-olah sedang
mengerjakan sesuatu, padahal tidak. Kekecewaan saya
semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak
dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa
saya harapkan darinya ?
Dan akhirnya suami saya bertanya," Apa yang dapat saya
lakukan untuk merubah pikiran kamu ?"
Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab
dengan pelan, "Saya punya pertanyaan, jika kau dapat
menemukan jawabannya di dalam perasaan saya, saya akan
merubah pikiran saya:
Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang
ada di tebing gunung. Kita berdua tahu jika kamu
memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan
memetik bunga itu untuk saya ?"
Dia termenung dan akhirnya berkata,"Saya akan
memberikan jawabannya besok."
Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya.
Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya
menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya
dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan…
"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu,
tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."
Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya.
Saya melanjutkan untuk membacanya.
"Kamu selalu pegal-pegal pada waktu ‘teman baik kamu’
datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan
tangan saya untuk memijat kaki kamu yang pegal."
"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir
kamu akan menjadi aneh’.
Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur
kamu di rumah atau meminjamkan lidah saya untuk
menceritakan hal-hal lucu yang saya alami."
"Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi, terlalu
dekat membaca buku, dan itu tidak baik untuk kesehatan
mata kamu.
Saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua
nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kuku
kamu dan mencabuti uban kamu."
"Tangan saya akan memegang tangan kamu, membimbing
kamu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan
pasir yang indah.
Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah
seperti cantiknya wajah kamu."
"Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga indah
yang ada di tebing gunung itu hanya untuk mati.
Karena, saya tidak sanggup melihat air mata kamu
mengalir menangisi kematian saya."
"Sayang, saya tahu, ada banyak orang yang bisa
mencintai kamu lebih dari saya mencintai kamu. Untuk
itu Sayang, jika semua yang telah diberikan tangan
saya, kaki saya, mata saya tidak cukup buat kamu, saya
tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan, kaki,
dan mata lain yang dapat membahagiakan kamu.
"
Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat
tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha
untuk terus membacanya.
"Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca
jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini,
dan tetap menginginkan saya untuk tinggal di rumah
ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang
sedang berdiri di sana menunggu jawaban kamu."
"Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini, Sayang,
biarkan saya masuk untuk membereskan barang-barang
saya, dan saya tidak akan mempersulit hidup kamu.
Percayalah, bahagia saya adalah bila kamu bahagia."
Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya
berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil
tangannya memegang susu dan roti kesukaan saya.
Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah
mencintai saya lebih dari dia mencintai saya.
Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur
hilang dari perasaan kita, karena kita merasa dia tidak dapat
memberikan
cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah
hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud
cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.
Karena cinta tidak selalu harus berwujud "bunga".
Kesan & Pesan
Cinta itu memang fenomena yang cukup unik ya, saat ini terlalu banyak orang mendefinisikan bahwa cinta itu harus memiliki, untuk kemudian mereka merasakan kesakitan ketika yang dicintai pergi atau meninggalkannya. Padahal jika kita ingin kembali menelusuri makna cinta sejati, yang menurutku "memberikan kebahagiaan" maka kita akan selalu bahagia.
Karena yang terpenting adalah yang kita cintai itu telah kita berikan kebahagiaan. Akan kenyataan bahwa hal itu berbalas atau tidak, bukanlah suatu yang harus di pusingkan. Kalo memang udah takdir Allah, maka gunung dan lautan pun tidak akan bisa memisahkan…. Dan kalo memang tidak ditakdirkan Allah, maka bumi dan langit pun tidak bisa menyatukan…