Archive for December, 2006

Kisah seorang tukang kayu

Tuesday, December 19th, 2006

Seorang  tukang kayu tua bermaksud
pensiun dari
pekerjaannya di sebuah perusahaan
konstruksi real
estate. Ia menyampaikan keinginannya
tersebut pada
pemilik  perusahaan. Tentu saja, karena
tak bekerja,
ia akan kehilangan penghasilan
bulanannya, tetapi
keputusan itu sudah bulat. Ia merasa
lelah. Ia ingin
beristirahat dan menikmati sisa hari
tuanya dengan
penuh kedamaian bersama istri dan
keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih
kehilangan  salah
seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu
memohon pada
tukang kayu tersebut untuk membuatkan
sebuah rumah
untuk dirinya.

Tukang kayu mengangguk menyetujui
permohonan pribadi
pemilik perusahaan itu. Tapi,
sebenarnya ia merasa
terpaksa. Ia ingin segera berhenti.
Hatinya tidak
sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-
ogahan ia
mengerjakan proyek itu. Ia cuma
menggunakan
bahan-bahan sekedarnya.

Akhirnya selesailah rumah yang diminta.
Hasilnya
bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh
sayang ia harus
mengakhiri kariernya dengan prestasi
yang tidak
begitu  mengagumkan.

Ketika pemilik perusahaan itu datang
melihat rumah
yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah
kunci rumah
pada si tukang kayu.
"Ini adalah rumahmu," katanya,  "hadiah
dari kami."

Betapa  terkejutnya si tukang kayu.
Betapa malu dan
menyesalnya. Seandainya saja ia
mengetahui bahwa ia
sesungguhnya mengerjakan rumah untuk
dirinya
sendiri,  ia  tentu akan mengerjakannya
dengan cara
yang lain  sama sekali. Kini ia harus
tinggal di
sebuah rumah  yang tak terlalu bagus
hasil karyanya
sendiri.

Itulah yang terjadi pada kehidupan
kita. Kadangkala,
banyak dari kita yang membangun
kehidupan dengan cara
yang membingungkan. Lebih  memilih
berusaha ala
kadarnya ketimbang mengupayakan yang
baik. Bahkan,
pada  bagian-bagian terpenting dalam
hidup kita tidak
memberikan yang terbaik. Pada akhir
perjalanan kita
terkejut saat melihat apa yang telah
kita lakukan dan
menemukan diri kita hidup di dalam
sebuah rumah yang
kita ciptakan sendiri.

Seandainya kita menyadarinya sejak
semula kita akan
menjalani hidup ini dengan cara yang
jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si tukang
kayu. Renungkan
rumah yang sedang kita bangun. Setiap
hari kita
memukul paku, memasang papan,
mendirikan dinding dan
atap. Mari kita selesaikan rumah kita
dengan
sebaik-baiknya seolah-olah hanya
mengerjakannya
sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun
kita hanya
hidup satu  hari, maka dalam satu hari
itu kita pantas
untuk hidup penuh keagungan dan
kejayaan.

Apa yang  bisa diterangkan lebih jelas
lagi.

Hidup kita esok adalah akibat sikap dan
pilihan yang
kita perbuat hari ini. Hari
perhitungan adalah milik
Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan
kita pun akan
masuk dalam barisan kemenangan.

"Hidup adalah proyek yang kau kerjakan
sendiri".

Kisah seorang ibu

Wednesday, December 13th, 2006

Images_1

Hari ini engkau terlahir ke dunia,
anakku. Meski tidak seperti harapanku bertahun-tahun merindukan
kehadiran seorang anak laki-laki, aku tetap bersyukur engkau lahir
dengan selamat setelah melalui jalan divakum. Telah kupersiapkan sebuah
nama untukmu; Qaulan Syadida..Aku sangat terkesan dengan janji Allah
dalam surat Al-Ahzab ayat tujuh puluh, maknanya perkataan yang benar.
Harapanku engkau kelak menjadi seorang yang kaya iman dan memperoleh fauzan’adzima, kemenangan yang besar seperti yang engkau telah dijanjikan Allah dalam Al-Quran.

Sungguh kelahiranmu telah mengajarkanku makna bersyukur…

1981
Tahun
ini engkau memasuki sekolah dasar. Usiamu belum genap enam tahun.
Tetapi engkau terus merengek minta disekolahkan seperti saudarimu.
Engkau berbeda dari keempat kakakmu terdahulu. Bagaimana engkau dengan
gagah tanpa ragu atau malu-malu melangkah memasuki ruang kelasmu.
Bahkan engkau tak minta dijemput. Saat ini aku mulai menyadari sifat
keberanian yang tumbuh dalam dirimu yang tak kutemukan dalam diri
saudarimu yang lain.

1987
Putriku, sungguh aku pantas
bangga padamu. Tahun ini engkau ikut Cerdas Cermat tingkat nasional di
TVRI. Dengan bangga aku menyaksikan engkau tampil penuh percayar diri
di layar kaca dan aku pun bisa berkata pada teman-temanku; itu anakku
Qaulan…Meski tidak juara pertama, aku tetap bangga padamu. Namun di
balik rasa banggaku padamu selalu terbesit satu kekhawatiran akan
sikapmu yang agak aneh dalam pengamatanku. Tidak seperti keempat
kakakmu yang kalem dan cenderung memiliki sifat-sifat perempuan, engkau
justru sangat agresif, pemberani, agak keras kepala, meski tetap santun
padaku dan selalu juara kelas.

Jika hari Ahad tiba, engkau lebih
suka membantuku membersihkan taman, mengecat pagar, atau memegangi
tangga bila aku memanjat membetulkan bocor. Engkau lebih sering
mendampingiku dan bertanya tentang alat-alat pertukangan ketimbang
membantu ibumu memasak di dapur seperti saudarimu yang lain.
Kebersamaan dan kedekatanmu denganku, membuatku sering meperlakukanmu
sebagai anak lelakiku, dengan senang hati aku menjawab
pertanyaan-pertanyaanmu, membekalimu dengan pengatahuan dan permainan
untuk anak lelaki. Tak jarang kita berdua pergi memancing atau sekedar
menaikkan layang-layang sore hari di lapangan madrasah tempat aku
mengajar.

Putriku, sungguh kekhawatiranku berbuah juga. Engkau
menolak bersekolah di tsanawiyah seperti saudarimu. Diam-diam tanpa
sepengetahuanku engkau telah mendaftar di sebuah SMP negeri. Bukan
kepalang kemarahanku. Untunglah ibumu datang membelamu, jika tidak
mungkin tangan ini sudah berpindah ke pipimu yang putih mulus. Tegarnya
watakmu, bahkan tak setetes airmata jatuh dari kedua matamu yang tajam
menatapku.

Putriku, jika aku marah padamu semata-mata karena aku
khawatir engkau larut dalam pola pergaulan yang tak benar, anakku.
Terlebih-lebih saat engkau menolak mengenakan jilbab seperti keempat
kakakmu. Betapa sedih dan kecewa hatiku melihatmu, Nak…

1993
Tahun
ini engkau menamatkan SMAmu. Engkau tumbuh menjadi gadis cantik,
periang, pemberani, dan banyak teman. Temanmu mulai dari tukang kebun
sampai tukang becak, wartawan, bahkan menurut ibumu pernah anggota
Kopassus datang mencarimu. Putriku, disetiap bangun pagiku, aku seolah
tak percaya engkau adalah putriku, putri seorang yang sering dipanggil
Ustadz, putri seorang kepala madrasah, putri seorang pendiri perguruan
Islam… Putriku, entah mengapa aku merasa seperti kehilanganmu. Sedih
rasanya berlama-lama menatapmu dengan potongan rambut hanya berbeda
beberapa senti dengan rambutku. Biar praktis dan sehat; berkali-kali
itu alasan yang kau kabarkan lewat ibumu. Jika terjadi sesuatu yang
tidak baik pada dirimu selama melewati usia remajamu, putriku maka
akulah orang yang paling bertanggung jawab atas kesalahan itu.

Aku
tidak berhasil mendidikmu dengan cara yang Islami. Dalam doa-doa
malamku selalu kebermohon pada Rabbul ‘Izzati agar engkau dipelihara
olehNya ketika lepas dari pengawasan dan pandangan mataku. Kesedihan
makin bertambah takkala diam-diam engkau ikut UMPTN dan lulus di
fakultas teknik. Fakultas teknik, putriku? Ya Rabbana, aku tak sanggup
membayangkan engkau menuntut ilmu berbaur dengan ratusan anak laki-laki
dan bukan satupun mahrommu? Dalam silsilah keluarga kita tidak satupun
anak perempuan belajar ilmu teknik, anakku. Keempat kakakmu menimba
ilmu di institut agama dan ilmu keguruan. Ya, silsilah keluarga kita
adalah keluarga guru, anakku. Engkau kemukakan sejumlah alasan, bahwa
Islam juga butuh arsitek, butuh teknokrat, Islam bukan tentang ibadah
melulu…Baiklah, aku sudah terlalu lelah menghadapimu, aku terima
segala argumen dan pemikiranmu,putriku.. Dan aku akan lebih bisa
menerima seandainya engkau juga mengenakan busana Muslimah saat memulai
masa kuliahmu.

1995
Tahun ini tidak akan pernah
kulupakan. Akan kucatat baik-baik… Engkau putriku, yang selalu
kusebut namamu dalam doa-doaku, kiranya Allah SWT mendengar dan
mengabulkan pintaku. Ketika engkau pulang dari kuliahmu; subhannalah!
Engkau sangat cantik dengan jilbab dan baju panjangmu, aku sampai tidak
mengenalimu, putriku. Engkau telah berubah, putriku.. Apa sesungguhnya
yang engkau dapati di luar sana. Bertahun-tahun aku mengajarkan padamu
tentang kewajiban Muslimah menutup aurat, tak sekalipun engkau cela
perkataanku meski tak sekalipun juga engkau indahkan anjuranku. Dua
tahun di bangku kuliah, tiba-tiba engkau mengenakan busana takwa itu?
Apa pula yang telah membuatmu begitu mudah menerima kebenaran ini?
Putriku, setelah sekian lamanya waktu berlalu, kembali engkau
mengajarkan padaku tentang hakikat dan makna bersyukur.

1997
Putriku,
kini aku menulis dengan suasana yang lain. Ada begitu banyak asa
tersimpan di hatiku melihat perubahan yang terjadi dalam dirimu. Engkau
menjadi sangat santun, bahkan terlihat lebih dewasa dari keempat
saudarimu yang kini telah berumah tangga semuanya. Kini, hanya engkau
aku dan ibumu yang mendiami rumah ini. Kurasakan rumah kita seolah-olah
berpendar cahaya setiap saat dilantuni tilawah panjangmu. Gemercik
suara air tengah malam menjadi irama yang kuhafal dan pantas kurenungi.
Putriku, jika aku pernah merasa bahagia, maka saat paling bahagia yang
pernah kurasakan di dunia adalah saat ketika diam-diam aku memergokimu
tengah menangis dalam sujud malammu…. Selalu kuyakinkan diriku bahwa
akulah si pemilik mutiara cahaya hati itu, yaitu engkau putriku…

1998
Putriku,
kalau saat ini aku merasa sangat bangga padamu, maka itu amat
beralasan. Engkau telah lulus menjadi sarjana dengan predikat cum
laude. Keharuan yang menyesak dadaku mengalahkan puluhan tanya ibumu,
diantaranya; mengapa engkau tidak punya teman pendamping pria seperti
kakak-kakakmu terdahulu? Engkau begitu sederhana, putriku, tanpa
polesan apapun seperti lazimnya mereka yang akan berangkat wisuda,
semua itu justru membuatku semakin bangga padamu. Entah darimana engkau
bisa belajar begitu banyak tentang kebenaran, anakku…

Jika hari
ini aku meneteskan airmata saat melihatmu dilantik, itu adalah airmata
kekaguman melihat kesungguhan, ketegaran, serta prinsip yangengkau
pegan teguh. Dalam hal ini akupun mesti belajar darimu, putriku…

1 Agustus 1999
Putriku,
bulan ini usiaku memasuki bilangan enampuluh tiga. Aku teringat
Rasulullah mengakhiri masa dakwahnya didunia pada usia yang sama.

Akhir-akhir
ini tubuhku terasa semakin melemah. Penyakit jantung yang kuderita
selama bertahun-tahun kemarin mendadak kumat, saat kudapati jawaban
diluar dugaan dari keempat saudarimu. Tidak satu pun dari mereka
bersedia meneruskan perguruan yang telah kubina selama puluhan tahun.
Aku sangat maklum, mereka tentu mempunyai pertimbangan yang lain, yaitu
para suami mereka. Sedih hatiku melihat mereka yang telah kudidik
sesuai dengan keinginanku kini seolah-oleh bersekutu menjauhiku. Jika
aku menulis diatas tempat tidur rumah sakit ini, itu dengan kondisi
sangat lemah, putriku. Aku tak tahu pasti kapan Allah memanggilku.
Putriku….kutitipkan buku harianku ini pada ibumu agar diserahkan
padamu. Aku percaya padamu… Jika aku memberikan buku ini padamu, itu
karena aku ingin engkau mengetahui betapa besar cintaku padamu, mengapa
dulu aku sering memarahimu..maafkan buya, putriku…

Kini hanya
engkau satu-satunya harapanku… Aku percaya perguruan yang telah
kubangun dengan tanganku sendiri ini padamu. Aku bercita-cita
mengembangkannya menjadi sebuah pesantren. Engkau masih ingat lapangan
tempat kita dulu menaikkan layangan? Itu adalah tanah warisan almarhum
kakekmu.

Di lapangan itulah kurencanakan berdiri bangunan asrama
tempat para santri bermukim. Engkau seorang arsitek, anakku, tentu
lebih memahami bangunan macam apa yang sesuai untuk kebutuhan sebuah
asrama pesantren… Kuserahkan sepenuhnya kepadamu, juga untuk
mengelolanya nanti. Sebab aku yakin, dari tanganmu, dari hatimu yang
jernih, dari perkataan dan tindakanmu yang selalu sejalan dengan
kebenaran akan terlahir sebuah fauzan’adzima, kemenangan yang besar, seperti yang telah Allah janjikan, yakinlah, putriku…

Dalam
diri dan jiwamu kini terhimpun beragam kapasitas keilmuan dunia dan
akhirat. Kini kusadari engkau bukan saja sekedar terlahir dari rahim
ibumu, tetapi juga lahir dari rahim bernama Hidayah. Semoga Allah
menyertai dan memudahkan jalan yang akan engkau lalui, putriku. Amien Ya Rabbal ‘Alamiin.

12 Agustus 1999
Rabbi,
jika airmata ini bukan tumpah, bukan karena aku tidak mengikhlaskan
buyaku Engkau panggil, tapi sebab aku belum mengenali buyaku selama
ini, seutuhnya. Sebab hanya seujung kuku baktiku padanya. Rabbi,
perkenankan aku menjalankan amanah Buya dengan segenap radhi-Mu. hanya
Engkau..ya Mujib… Happy Birthday to Buya I Love you so much

* * *

14 September 1999

Menghadapi hidup

Wednesday, December 13th, 2006

  Suatu ketika, hiduplah
seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi,  datanglah seorang anak muda
yang sedang dirundung  banyak masalah.  Langkahnya gontai dan air muka
yang ruwet.

    Pemuda itu, memang tampak seperti orang yang
tak bahagia. Pemuda itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang
bijak mendengarkan dengan seksama.

    Beliau lalu mengambil segenggam garam dan
segelas air. Dimasukkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduk perlahan.

"Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya, "ujar Pak tua itu.

"Asin. Asin sekali, "jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.

 
Pak Tua tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Beliau lalu mengajak
sang pemuda ke tepi telaga di dekat tempat tinggal Beliau.

   
Sesampai di tepi telaga, Pak Tua menaburkan segenggam garam ke dalam
telaga itu.  Dengan sepotong kayu, diaduknya air telaga itu.

"Coba, ambil air dari telaga ini dan minumlah." Saat pemuda itu selesai mereguk air itu, Beliau bertanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar," sahut sang pemuda.

"Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?" tanya Beliau lagi.
   
"Tidak," jawab si anak muda.
   
    Dengan lembut Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda.
"Anak
muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam
tadi, tak lebih dan tak kurang. Jumlah garam yang kutaburkan sama,
tetapi rasa air yang kau rasakan berbeda. Demikian pula kepahitan akan
kegagalan yang kita rasakan dalam hidup ini, akan sangat tergantung
dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari
perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung
pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam
hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu
menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan
itu.
"
   
    Beliau melanjutkan nasehatnya. "Hatimu
adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat
kamu menampung segalanya.Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas,
buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan
merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."